Minggu, 25 Juni 2017

Upaya Sulteng Amankan Stok Dan Harga Sembako

id sembako, lebaran
Upaya Sulteng Amankan Stok Dan Harga Sembako
Ilustrasi (antaranews)
"Kalau harga tidak bisa dikendalikan dengan baik, maka inflasi bisa tinggi dan ini akan menganggu perekonomian nasional dan upaya mensejahterakan masyarakat," kata Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulteng, Bunga Elim Somba.
Palu, (Antarasulteng.com) - Dalam beberapa hari terakhir ini, harga sejumlah bahan kebutuhan masyarakat, khususnya bahan pokok di pasaran Kota Palu mulai bergerak naik.

Ada tiga jenis bahan yang harga ecerannya mulai merangkak yakni daging sapi, telur dan ayam potong. Kenaikannya memang masih wajar-wajar saja, namun hal ini sudah mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Seorang ibu rumah tangga Yerit Eltin yang baru saja berbelanja di Pasar Masomba Palu, Jumat, mengemukakan bahwa pekan lalu daging sapi masih dijual seharga Rp85.000,00 per kilogram kini sudah naik menjadi Rp90.000,00.

Harga yam potong juga naik dari Rp18.000,00/kg menjadi Rp20.500,00 dan telur ayam dari Rp1.100,00/butir menjadi Rp1.200,00/butir.

"Maaf bu, harganya sudah naik. Soalnya harga jual di tingkat produsen sudah naik," kata Yerit mengutip keterangan pedagang langganannya di pasar tradisional terbesar di kawasan Palu Timur itu.

Pedagang tersebut mengemukakan bahwa kenaikan harga seperti itu sudah biasa menjelang Ramadhan dan Idul Fitri serta hari besar keagamaan lainnya.

Meski mengalami kenaikan harga, para pedagang mengaku bahwa persediaan mereka miliki cukup memadai.

Dalam rangka mengamankan stok dan harga barang, terutama sembako, Pemprov Sulawesi Tengah langsung mengumpulkan semua pihak terkait pengadaan dan distribusi bahan pokok dalam sebuah rapat koordinasi di Palu, Kamis (5/6) petang).

Pertemuan itu dihadiri para distributor dan subdistributor bahan kebutuhan masyarakat, pejabat dari Bulog, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Dinas Perhubungan, Pertamina, Dinas Peternakan dan Biro Ekonomi Pemprov Sulteng.

Rakor yang dipimpin Kadis Perindagkop dan UMKM Sulteng Abubakar Almahdali itu menyepakati lima hal yaitu amankan ketersediaan dan kenaikan harga barang kebutuhan pokok masyarakat, intensifkan pemantauan dan kelancaran distribusi, koordinasikan pengamanan kelancaran angkutan barang, laksanakan pasar murah dan pembentukan posko informasi kebutuhan pokok.

Abubakar mengatakan pertemuan ini sangat penting guna saling memberikan informasi mengenai kekuatan stok agar tidak sampai terjadi kelangkaan barang di pasaran yang bisa memicu gejolak naik.

Dia mengakui ada beberapa jenis bahan pokok yang harganya mulai naik seperti daging sapi, telur ayam dan daging ayam. Kenaikan tersebut dipicu permintaan masyarakat yang cenderung meningkat menjelang bulan puasa.

Meski kenaikan masih bisa ditoleransi, tetapi perlu diwaspadai karena bisa diikuti kebutuhan lainnya jika pemerintah dan distributor tidak melakukan langkah kongkret.

Menurut Abubakar, untuk membantu masyarakat kecil di berbagai kota, pemerintah provinsi dan kabupaten akan melaksanakan pasar murah sembako. Khusus di Kota Palu, pasar murah akan dilaksanakan tiga kali yaitu menjelang ramadhan, lebaran dan Natal.



Stok aman



Dalam pertemuan itu, Dinas Peternakan dan Bulog Sulteng menyatakan stok barang seperti daging, telur dan ayam serta beras dijamin mencukupi kebutuhan hingga lebaran.

Bulog Sulteng saat ini memiliki persediaan beras sekitar 12.000 ton, cukup untuk kebutuhan empat bulan ke depan.

Kepala Dinas Peternakan Sulteng, M Faisal Mang menyatakan masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan stok daging sapi, telur dan ayam karena persediaan memadai.

Selama Juni 2014, Sulteng membutuhkan telur ayam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebanyak 369.305 kilogram dan Juli 2014 meningkat mencapai 624.000 kilogram. Kebutuhan daging sapi pada Juni 2014 sebanyak 2.623 ton dan Juli mencapai 9.734 ton.

"Semua kebutuhan daging dan telur dapat dipenuhi dari hasil produksi para peternak yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Sulteng. Kita tidak perlu mendatangkan sapi potong, ayam dan telur dari luar daerah," kata Faisal.

Kalangan distributor juga memberikan jaminan stok barang seperti gula pasir, tepung terigu, mentega, dan susu akan tetap terjaga hingga Lebaran Idul Fitri 2014.

Direktur CV. Garindo, salah satu distributor gula dan terigu, Jemmy Hosan mengemukakan bahwa pihaknya masih meiliki stok sekitar 3.000 sak dan tepung terigu mencapai 30.000 sak.

Gula pasir dan tepung terigu yang beredar di pasaran Palu adalah produksi dalam negeri asal Surabaya, Makassar, dan Gorontalo.

Hal senada disampaikan Yulius dari PT Varia Kencana yang mengaku masih menguasai stok gula pasir sebanyak 3.000 sak, tepung terigu merek segitiga biru 1.500 dos dan lencana merah 2.500 dos.

Persediaan komoditas tersebut dijamin mencukupi kebutuhan masyarakat hingga Idul Fitri 2014. Juga masih dalam perjalanan menuju Palu tiga kontainer berisi gula dan tepung terigu, katanya.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan masyarakat untuk kedua jenis kebutuhan dimaksud karena stok mencukupi kebutuhan dan harga stabil," ujarnya.

Harga tepung terigu di pasaran saat ini berkisar Rp8.500,00-Rp9.000,00 per kilogram dan gula pasir Rp12.000,00 per kilogram.

Ronny Cahyadi dari PT Tompotika Raya juga mengemukakan bahwa stok mentega blue band yang mereka miliki cukup banyak mencapai 10.000 dos, cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Lebaran 2014.

Di pihak lain, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tengah mengatakan siap meningkatkan pengawasan terhadap peredaran makanan dan minuman jangan sampai ada yang kadaluarsa tetapi masih diedarkan di pasar-pasar.

"Menjelang hari raya seperti ini dimana permintaan akan naik, pengawasan tidak cukup hanya pada stok dn harga tetapi juga kualitas dan keamanan untuk menginsumsi barang-barang tersebu," kata Novi Yanti Rahmi, Kepala Seksi Pengujian BPOM Sulteng di Palu, Jumat.

Pihaknya akan semakin gencar melakukan sidak untuk memantau kemungkinan adanya obat, makanan dan minumal kadaluarsa yang masih diperdagangkan.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulteng Bunga Elim Somba mengemukakan bahwa pertemuan pejabat lintas sektor dan para distributor ini juga sangat penting dan strategis untuk mengendalikan inflasi.

"Kalau harga tidak bisa dikendalikan dengan baik, maka inflasi bisa tinggi dan ini akan menganggu perekonomian nasional dan upaya mensejahterakan masyarakat," ujarnya.

Karena itu, katanya, Gubernur Sulteng Longki Djanggola sejak jauh-jauh hari telah memerintahkan stafnya untuk segera mengambil langkah-langkah antisipasi untuk menjaga agar kalau boleh tidak ada kenaikan harga bahan pokok menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

"Kalau pun terpaksa ada kenaikan, harus seminimal mungkin dan kenaikan itu bukan karena terjadi kelangkaan stok di pasaran," kata Elim Somba yang mengaku bahwa faktor psikologis pasar terutama bila terjadi `panic-buying` bisa memicu kenaikan harga sekalipun stok sangat aman. (BK03)

Editor: Anas Masa

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Baca Juga