Rabu, 20 September 2017

Tiongkok Beli 5.145 Ton Bungkil Kopra Sulut

id kopra, kelapa, bungkil
Tiongkok Beli 5.145 Ton Bungkil Kopra Sulut
Kebanyakan, petani di Sulut hanya membiarkan bungkil kopra dibuang percuma, padahal mempunyai nilai tambah yang lebih," kata Hasudungan.
Manado, (Antarasulteng.com) - Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Utara (Sulut) T Hasudungan Siregar mengatakan pada pekan kedua Juni 2014 Tiongkok membeli 5.154 ton bungkil kopra daerah tersebut.

"Volume ekspor bungkil kopra 5.145 ton itu mampu menghasilkan devisa sebesar 1,15 juta dolar Amerika Serikat," kata Hasudungan, di Manado, Senin.

Akhir-akhir ini banyak negara di Asia melirik bungkil kopra asal Sulut dengan penawaran harga yang cukup tinggi.

"Setiap kali bungkil kopra diekspor mampu menghasilkan jutaan dolar bagi daerah," jelas Hasudungan.

Bungkil kopra, katanya, merupakan produk turunan kelapa yang nantinya akan dibuat menjadi pakan ternak di negara Tiongkok.

"Kebanyakan, petani di Sulut hanya membiarkan bungkil kopra dibuang percuma, padahal mempunyai nilai tambah yang lebih," kata Hasudungan.

Pihaknya berharap petani akan memanfaatkan peluang ini, karena negara Tiongkok sangat meminati bungkil kopra asal Sulut.

Dulu bungkil kopra memang menjadi andalan bahan pakan ternak, tetapi sejak munculnya berbagai jenis konsentrat, bungkil kopra mulai dilupakan dan dibuang percuma, dengan adanya potensi pasar ini berarti salah satu peluang yang mesti dioptimalkan.

Pemerintah, katanya akan terus memfasilitasi agar petani kelapa dan turunannya di Sulut, terus mendapatkan pasar baru dengan permintaan yang lebih kompetitif.

"Kualitas bungkil kopra yang baik, akan pasti mendapatkan banyak pasar," katanya.

Bungkil kopra asal Sulut, katanya, paling banyak dibeli oleh negara-negara di Asia seperti India, Malaysia, Korea Selatan dan Tiongkok.

Tujuan ekspor komoditas unggulan Sulut tersebut akan terus didorong selain di berbagai negara di Asia juga merambah Uni Eropa, Amerika dan Afrika.

Editor: Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Baca Juga