Selasa, 27 Juni 2017

Islam Nusantara Mampu Jadi Benteng Masuknya Paham Transnasional

id NU
Islam Nusantara Mampu Jadi Benteng Masuknya Paham Transnasional
Nahdatul Ulama (antaranews)
Bukan hanya sekadar slogan, tapi harus menjadi konsep pengamalan nilai Islam dalam kehidupan nyata sehingga mampu membentengi paham keagamaan yang tidak cocok dengan kondisi di Indonesia
Yogyakarta (antarasulteng.com) - ntara) - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Mahasin mengatakan warga Nahdlatul Ulama perlu mengimplementasikan konsep Islam Nusantara yang dinilai mampu menjadi benteng masuknya paham transnasional.

"Bukan hanya sekadar slogan, tapi harus menjadi konsep pengamalan nilai Islam dalam kehidupan nyata sehingga mampu membentengi paham keagamaan yang tidak cocok dengan kondisi di Indonesia," kata Mahasin dalam sarasehan tokoh agama dan masyarakat dengan tema "Menuju Islam Nusantara Berkemajuan di Yogyakarta, Minggu.

Konsep penerapan Islam Nusantara seperti yang diangkat sebagai tema utama Muktamar Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang, Jawa Timur itu, ia tegaskan, bukan merupakan aliran baru dalam Islam, melainkan konsep pengamalan nilai-nilai Islam dengan tanpa menafikan budaya-budaya Nusantara.

"Apalagi budaya lokal di Nusantara sejak awal telah memiliki kearifan tersendiri dengan mengutamakan unsur kedamaian, tata krama, dan toleran," kata dia.

Menurut Mahasin, masyarakat khususnya umat Islam di Indonesia saat ini cenderung terbuka dan menyerap berbagai paham keagamaan "transnasional" atau yang berasal dari luar negeri seperti ekstrimisme dan liberalisme.

"Termasuk meniru budaya atau ciri khas berpakaian di mana paham itu berasal. Padahal cara berpakaian belum tentu berhubungan dengan Islam melainkan hanya menggambarkan budaya negara setempat," kata dia.

Sayangnya, setelah meniru dan menyerap paham transnasional itu, ia mengatakan, kebanyakan menganggap bahwa pemahaman keagamaan termasuk budaya yang diserap itu merupakan yang paling benar dan paling asli dibanding pemahaman yang lain.

Selain itu, Mahasin mengatakan, munculnya berbagai pemahaman transnasional juga membuat hubungan antarumat Islam di Nusantara menjadi renggang, sebab dengan paham impor tersebut banyak Umat Islam di Indonesia berubah memiliki cara pandang yang kaku dan cenderung keras dalam menghadapi perbedaan.

"Seperti aksi pemukulan sedemikian rupa terhadap penganut paham Syiah dan Ahmadiyah. Ini siapa yang bertanggung jawab? itu bukan cara yang digunakan oleh ajaran Islam yang asli, karena di dalam Islam orang yang berbeda tidak lantas dipukuli," kata Mahasin.

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga