Minggu, 25 Juni 2017

Sejarawan: "Westernisasi" Pesantren Lemahkan Islam Indonesia

id santri, nu
Sejarawan:
Santri mengaji kitab kuning Safiinatun Najaah yang berisi dasar-dasar ilmu fiqih mengisi liburan jelang ramadhan di Pondok Pesantren Attahdzib, Rejoagung, Ngoro, Jombang, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta (antarasulteng.com) - Sejarawan Nahdlatul Ulama (NU) Agus Sunyoto menilaiwesternisasi yang masuk ke lingkungan pondok pesantren melemahkan Islam di Indonesia yang memiliki semangat perjuangan, sebagaimana pernah terjadi saat kolonialisasi Belanda.

"Frekuensi pesantren berperang saat koloniaisasi Belanda menurun pada abad ke-19, seiring dengan munculnya sekolah modern saat itu," kata Agus yang juga ketua Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) saat mengisi diskusi bertema "Mengurai Hubungan Resolusi Jihad dan Hari Pahlawan" di Jakarta, Jumat.

Menurut Agus, kalangan santri dan ustad pada era penjajahan Belanda tahun 1800-1900 melakukan sedikitnya 112 pemberontakan, merujuk pada laporan harian pemerintah Hindia Belanda. Tapi seiring menjamurnya sekolah modern justru perlawanan terhadap penjajah angkanya menurun.

Ini menandakan, masih kata dia, pendidikan modern yang menandingi pesantren mulai menggerus nilai-nilai Islam yang mengajarkan bela negara atau cinta Tanah Air.

Sementara itu, sejarawan NU lainnya Zainul Milal Bizawie mengatakan ada kecenderungan pesantren semakin dipinggirkan di masa lalu dan efeknya dapat dirasakan sampai saat ini.

Maka dari itu, dia berharap agar pesantren terus dipertahankan dan direvitalisasi sehingga terus dapat menguatkan peran positifnya di tengah masyarakat, seperti ajaran tentang nasionalis religius.

"Sejak awal kemerdekaan sepertinya ada yang mengarahkan hubungan tokoh nasional Bung Tomo yang datang dari kelompok pesantren, agak-agak dipinggirkan. Seperti ada tujuan supaya bangsa ini tidak perlu religius," kata dia.

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Baca Juga