Personel Operasi Tinombala Waspadai Penyakit Schisto

id tinombala

Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto memperlihatkan bahan sosialisasi penyakit schisto untuk personel Operasi Tinombala di Poso, Minggu (19/6) (Antarasulteng.com/Feri)

Poso,  (antarasulteng.com) - Seluruh personel Operasi Tinombala di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, khususnya yang bertugas di Wilayah Lore atau Dataran Napu, diingatkan untuk mewaspadai penyakit schistosomiasis, sejenis penyakit yang disebabkan cacing schisto yang hidup di dalam keong.

Kepala Bidang Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suptrapto mengemukakan di Poso, Minggu, pihaknya sudah menyosialisasikan kepada seluruh pasukan agar mengetahui dan mewaspadai kemungkinan menyebarnya penyakit keong itu.

"Penyampaianya dengan memberikan penerangan satuan (pesat) terhadap anggota di lapangan dan yang baru akan bertugas, sehingga anggota mengetahui hal-hal yang harus dihindari," katanya.

Hari mengatakan sejak Operasi Tinombala digelar pada Januari 2016, hingga saat ini tidak ada anggota yang diduga terserang penyakit itu.

Menurut dia, terkait kewaspadaaan terhadap penyakit keong, pihaknya telah menempel di seluruh pos satuan mengenai berbagai hal tentang penyakit keong tersebut termasuk tempat-tempat yang harus dihindari karena diduga merupakan tempat berkembangnya keong pembawa cacing schisto.

Keterangan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Poso menyebutkan bahwa penyakit schistosomiasis hanya terdapat di dua tempat di Indonesia yakni Dataran Napu Kabupaten Poso dan wilayah Lindu, Kabupaten Sigi.

Penyakit Schistosomiasis disebabkan cacing schistosoma yang masuk ke dalam darah manusia melalui pori-pori saat manusia masuk ke daerah berair tempat berkembangnya keong schicto.

Cacing itu kemusian akan tinggal dan bertelur di hati manusia dan merusak organ hati. Karena itu ciri-ciri orang terkena penyakit langka di dunia ini adalah perut membesar yang lama kelamaan akan meninggal dunia.

Cacing schistosoma hidup dan berkembang biak pada air yang tidak mengalir yang tidak terkena sinar matahari.  
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar