Senin, 27 Maret 2017

Pemkot Palu Minta Pertamina Jaga Ketersediaan Elpiji

id elpiji
Pemkot Palu Minta Pertamina Jaga Ketersediaan Elpiji
Pekerja menurunkan gas elpiji 3 kg dari truk distribusi ke salah satu pengecer di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (31/12). (ANTARA FOTO/Basri Marzuki/ss/nz/13)
Kalau stok kurang bisa memicu harga elpiji bersubsidi bergerak naik dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah
Palu,  (antarasulteng.com) - Pemkot Palu minta Depot Pertamina untuk menjaga ketersediaan elpiji karena selama Desember 2016 permintaan masyarakat dipastikan meningkat pesat.

"Kalau stok kurang bisa memicu harga elpiji bersubsidi bergerak naik dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah," kata Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Palu, Tamin Tombolotutu, Selasa.

Ia berharap Pertamina melalui agen-agen penyalur menjaga kontinunitas pasokan ke tiap pangkalan agar stok selalu tersedia dalam jumlah memadai.

Distribusi kebutuhan masyarakat tersebut harus berjalan lancar, mengingat elpiji sangat dibutuhkan, apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru dipastikan meningkat hingga dua kali-lipat dari sebelumnya.

Menurut dia, jika distribusi dari agen penyalur ke pangkalan lancar, niscaya tidak akan sampai terjadi kekosongan atau kelangkaan elpiji.

Tetapi jika distribusi tidak lancar, maka bisa terjadi kelangkaan dan kenaikan harga elpiji. Jika sampai terjadi, maka yang pusing dan selalu dipersalahkan adalah pemerintah, ujarnya.

Mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, maka kuncinya dalah distribusi harus berjalan lancar.

Pantauan disejumlah pangkalan di Palu, stok elpiji 3kg maupun 12kg cukup memadai. Harganya pun di pangkalan masih sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp16.000/tabung untuk elpiji 3kg.

Herad, seorang pemilik pangkalan elpiji bersubsidi di kelurahan Tatura Selatan mengatakan masih memiliki persediaan elpiji dalam jumlah banyak.

Ia mengatakan sebulan mendapat suplai elpiji dari pihak agen penyalur sebanyak tiga kali.

Dalam menjual kebutuhan itu, ia tetap mengacu kepada HET yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kami tidak berani menjual melebihi HET, sebab sanksinya berat," kata dia.  

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Baca Juga