Selasa, 24 Januari 2017

Sulteng Tanggapi Usulan Habib Rizieq Jadi Imam Besar

id fpi
Sulteng Tanggapi Usulan Habib Rizieq Jadi Imam Besar
Imam besar FPI Habib Rizieq (ANTARA News/Alviansyah)
Palu,  (antarasulteng.com) - Sejumlah elemen organisasi Islam di Provinsi Sulawesi Tengah menanggapi fenomena terkait adanya usulan dari bebeberapa komponen umat Islam yang ingin menetapkan Habib Rizieq sebagai Imam besar Nasional umat Islam.

"Kalau kita melihat popularitas beliau di tingkat nasional dan sudah masuk ke tingkatan internasional, saya pikir bisa saja, namun secara prosedural yang kita lihat dari kapastitas kultural dan strukturalnya juga perlu dipertimbangkan," kata Ketua Darud Dakwah Wal Isyad (DDI) Sulteng Prof Asyari di Palu, Selasa.

Menurut guru besar IAIN Palu itu, dengan acara doa dan dzikir nasional beberapa waktu lalu dalam aksi bela Islam, yang direspon sangat besar ummat Islam, membuktikan bahwa sosok Habib Rizieq mampu menyatukan ummat dengan konsep khilafahnya.

Secara pribadi dan organisasi, kata Asyari, pihaknya memberikan apresiasi ketika ada keinginan sepihak dari ummat Islam yang memiliki niatan seperti itu.

"Intinya beliau dapat mengimplementasikan konsep-konsepnya yang selaras dengan dasar Negara yakni Pancasila dan UUD 1945," ujarnya.

Siapa pun, kata dia, di Negara Indonesia bisa jadi pemimpin, jadi kenapa Habib Rizieq tidak bisa. Sedangkan kata Ibnu Taimiyah bahwa non-muslim saja bisa jadi pemimpin, selama dia bisa berlaku adil dan jujur.

"Walaupun pada hakikatnya ibnu Taimiyah juga menginginkan pemimpin itu harus muslim, tetapi kalau sudah tidak ada muslim yang berani, mengapa tidak non-muslim," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Presidium Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI Sulteng, Ustad Hartono bahwa komitmen awal yang dibangun gerakan ini adalah kebersamaan antara ulama dan ummat, dan ini menjadi catatan bersama.

"Jadi ulama yang dimaksud adalah ulama yang ada di dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI)," katanya.

Jadi, kata dia, ini bukan gerakan yang biasa, tetapi momentum yang menemukan apa yang hilang selama ini yakni kebersamaan antara ulama dan ummat. Sehingga GNPF MUI di Sulteng, akan terus menjaga dan merawat karunia Allah yakni momentum kebersamaan itu.

"Jadi kalau pun kedepannya MUI menginginkan ada tokoh yang dimunculkan untuk mendukung gerakan sipil di Indonesia untuk kebaikan ummat ke depan, maka saya dan seluruh elemen masyarakat akan mendukung itu, siapa pun orangnya dan dari organisasi Islam mana pun dia," tekan Hartono.

Menurut Hartono, jika melihat ikon Habib Rizieq tidak ada yang menyangkal bahwa profilnya sangat besar ketika sejumlah aksi ummat Islam beberapa waktu lalu. Sementara keinginan sebagian ummat Islam agar Habib Rizieq menjadi imam besar, itu sah-sah saja.

Sementara Sekjen Pengurus Besar Alkhairaat Dr. Lukman Taher mengatakan bahwa keinginan sebagian ummat Islam untuk menjadikan Habib Rizieq sebagai tokoh ummat merupakan hal yang wajar.

Tetapi kalau Habib Rizieq direpresentatifkan sebagai ummat Islam secara keseluruhan, saya kira kurang pantas," ujarnya.

Menurut Akademisi IAIN Palu itu, representasi ummat Islam tidak dapat diwakilkan pada satu orang saja, tetapi ada begitu banyak ulama-ulama yang ada di Indonesia saat ini.

"Jadi tidak ada larangan organisasi yang memiliki niatan seperti itu, tetapi jangan sampai menjadikan satu individu dapat mewakili secara keseluruhan ummat Islam di Indonesia," tutup Lukman.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng, Jamaluddin Mariadjang mengatakan di Indonesia sejumlah organisasi Islam besar dan diakui oleh Negara dan mempunyai peran besar di masyarakat juga perlu dimintai pertimbangan dalam gagasan seperti itu.

Kata dia, di Indonesia ada sejumlah organisasi besar Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, DII, Alkhairaat dan organisasi Islam lainnya juga mempunyai peran penting.

"Saya kira gagasan-gasan itu harus dibawa ke dalam satu dialog yang lebih luas dari ummat Islam, karena bisa saja ada unsur-unsur politik terlibat di dalamnya," katanya.

Sebelumnya Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Jakarta, 17-20 Desember 2016 mengusulkan kepada seluruh komponen umat Islam agar menobatkan Habib Rizieq sebagai imam besar nasional.

Usulan itu datang dari Ormas Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi). Alasannya, Rizieq dinilai telah berhasil menyatukan umat Islam Indonesia dari berbagai golongan dan mazhab.

"Dengan berbagai pertimbangan, Parmusi mengusulkan seluruh komponen umat Islam khususnya Ormas Islam, OKP Islam, majelis taklim, DKM, laskar Islam untuk segera bermusyawarah dan menetapkan Habib Rizieq sebagai imam besar nasional untuk menjadi acuan dalam penegakkan amar makruf nahi mungkar di negeri ini," kata Ketua Umum Parmusi, Usamah Hisyam di Hotel Amarossa, Jakarta Selatan, Senin (19/12). 

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga