Rabu, 26 April 2017

BI Perkirakan Ekonomi Sulteng Tumbuh 12,2 Persen

id bank, bi
BI Perkirakan Ekonomi Sulteng Tumbuh 12,2 Persen
Bank Indonesia (antaranews)
Palu,  (antarasulteng.com) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah memperkirakan pertumbuhan ekonomi daerah ini pada 2017 akan berkisar antara 11,8 hingga 12,2 persen.

Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan 2016 yang berkisar 11 hingga 11,4 persen dan lebih rendah dari tahun 2015 sebesar 15,56 persen.

"Kami masih optimistis karena produk unggulan Sulteng seperti nikel dari sektor pertambangan diperkirakan mengalami kenaikan harga ekspor," kata Kepala Perwakilan BI Sulteng Miyono di Palu, Selasa.

Menurut Miyono, beberapa indikasi produk unggulan Sulteng seperti nikel mengalami kenaikan di pasar internasional, khususnya peningkatan industri manufaktur di Jepang sehingga kebutuhan bahan baku juga besar dan ekspor dari Sulteng juga akan meningkat.

Bagi Miyono, sektor yang paling memengaruhi pertumbuhan ekonomi Sulteng yakni pertambangan dan penggalian. Kemudian disusul oleh industri pengolahan.

Saat ini, kata dia, pembangunan smelter nikel sudah maksimal, namun jika hanya mengandalkan itu, ada beberapa kelemahan yang menjadi perhatian pemerintah daerah.

"Memang sektor pertambangan sangat baik dari segi pertumbuhan ekonomi, tetapi dari segi pemerataan dan penyerapan tenaga kerja kurang baik. Sebab, pertumbuhan di sektor pertambangan ini, `trickle down effect` nya tidak massif," ujar Miyono.

Miyono menjelaskan sektor pertambangan sangat dipengaruhi kondisi eksternal atau ekspor dunia. Jika harga baik, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dan itu berlaku sebaliknya.

"Sehingga jika sektor ini dianggap tidak ada, maka pertumbuhan ekonomi Sulteng hanya berkisar 6 persen hingga 7 persen," tutup Miyono.

BI Sulteng dalam laporan akhir tahun 2016 memperkirakan selain tendensi meningkatnya harga nikel dan relatif stabilnya harga LNG yang ikut mempengarui pertumbuhan ekonomi tahun 2017, juga adanya tambahan kapasitas produksi smelter.

Juga beroperasinya smelter tahap II Morowali yang sebelumnya smelter tahap I berkapasitas 300 ribu ton per tahun, kemudian smelter tahap II kapastitas 600 ribu ton per tahun, serta rencana beroperasinya pabrik pengolahan amonia di triwulan III tahun 2017.  

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga