Minggu, 28 Mei 2017

BI Palu sosialisasikan uang NKRI di lingkungan TNI

id Korem
BI Palu sosialisasikan uang NKRI di lingkungan TNI
Kepala Perwakilan BI Sulteng Miyono (tengah) pose bersama perwira TNI di lingkungan Korem 132/Tadulako Palu, Senin (6/2). (Antarasulteng.com/Penrem)
Pencetakan uang NKRI sudah sesuai dengan UU No.7 Tahun 2011 tentang Mata Uang
Palu (antarasulteng.com) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyosialisasikan uang baru NKRI kepada jajaran TNI di lingkungan Korem 132/Tadulako Palu, berlangsung di Aula Manggala Sakti, Senin.

Sosialisasi ini dilaksanakan untuk menipis isu-isu menyesatkan yang beredar di masyarakat (hoax) terhadap uang NKRI Tahun Emisi (TE) 2016, sekaligus sekaligus mengenalkan uang baru kepada seluruh lapisan masyarakat. 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng Miyono mengatakan saat ini berkembang lima isu menyesatkan terkait uang rupiah baru pascadiluncurkan Desember 2016 antara lain isu yang dihembuskan sekelompok ormas yang mengatakan bahwa terdapat lambang yang  mirip simbol PKI karena ada palut arit, tapi kenyataannya tidak ada lambang tersebut di dalam uang rupiah tahun emisi 2016. 

"Itu gambar ornamen BI yang merupakan salah satu teknik pengaman dalam percetakan uang yakni rectoverso atau gambar saling isi," ujarnya.

Isu kedua uang rupiah baru mirip Yuan, mata uang Cina, namun uang baru ini sudah standar dengan bank sentral di negara-negara lain dan tidak mirip dengan Yuan. 

Menurutnya, penentuan warna uang rupiah baru itu bertujuan agar sulit ditiru dengan tinta-tinta biasa yang beredar di pasar sehingga sulit dipalsukan.

Selanjutnya, pemilihan gambar pahlawan dinilai sebagian orang tidak tepat, padahal, gambar pahlawan itu sudah dilakukan sesuai prosedur seperti berkoordinasi dengan Kemenkeu, Kemensos dan Kemenkumham, bahkan sudah  melalui diskusi dengan melibatkan akademisi, sejarawan dan tentunya ahli waris.

Selain itu, menurut Miyono, gambar pahlawan Cut Muthia pun dipermasalahkan karena tidak berjilbab, padahal hal ini sudah terdaftar di Kementerian Sosial dan disetujui oleh pihak ahli waris.

"Gambar itu tidak boleh kita ubah sedikitpun, baik dikurangi atau ditambahkan," kata Miyono.

Selain itu, uang baru tidak cetak plus satu atau lebih satu kali dari jumlah yang seharusnya dicetak. Akan tetapi, isu berkembang, Bank Indonesia mencetak uang plus satu. Dia mencontohkan, seharusnya Rp1 juta tapi BI mencetak tambahan Rp1 juta, itu tidak benar alias hoax.

Sementara terakhir, isu yang menyesatkan lainnya, uang baru dicetak oleh sebuah perusahaan di Solo yang pemiliknya adalah orang Cina. Namun itu lagi-lagi berita hoax karena selama ini uang NKRI dicetak oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum-Peruri), sebuah perusahaan BUMN.

"Itu semua sudah sesuai dengan amanat UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang", ujar Miyono lagi.

Acara sosialisasi ini dihadiri oleh Kasrem 132/Tadulako Letkol Inf Andrian Susanto, para kepala seksi dan perwira, bintara dan tamtama serta PNS jajaran Korem 132/Tadulako.

Pada akhir acara, Bank Indonesia Perwakilan Palu memberikan kesempatan kepada seluruh peserta sosialisasi untuk menukarkan uang lama yang dimilikinya dengan uang NKRI ke Mobil Kas Keliling BI. Hal ini dilakukan untuk menarik secara perlahan uang-uang lama yang masih berada di tangan masyarakat guna digantikan dengan uang NKRI yang baru. (Penrem)

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga