Kamis, 21 September 2017

Revolusi Biru (1): Menyongsong Indonesia baru

id parni
Revolusi Biru (1): Menyongsong Indonesia baru
Wartawan Senior Parni Hadi. (ist)
Jakarta (antarasulteng.com) - Ini tidak ada hubungannnya dengan keributan yang mengharu-biru.

Juga tidak ada kaitannya dengan revolusi yang berdarah-darah, apalagi yang melibatkan mereka yang dianggap berdarah biru.

Revolusi Biru (Blue Revolution) dalam tulisan ini adalah sebuah gerakan besar secara drastis untuk mengubah pola pikir atau "mind set" bangsa Indonesia untuk berorientasi ke laut. Tujuannya adalah: "Membangun Identitas Manusia Maritim Indonesia".

Ini berarti membangun manusia Indonesia "baru" dengan identitas "baru" yang sadar bahwa hari depan, kemakmuran, dan kehormatannya ditentukan oleh kemampuannya untuk mengolah kekayaan potensi sumberdaya maritim yang dimiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Membangun identitas manusia berarti membentuk jati diri atau karakter. Ini adalah sebuah proses "pembudayaan", yakni menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai dalam perilaku kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi sebuah "kebiasaan" yang kemudian melalui transformasi menjadi sebuah "kebudayaan".

Ini adalah sebuah proses yang memakan waktu lama dan biaya besar dengan landasan komitmen yang konsisten, jangan gampang berubah. Wahana paling efektif untuk transformasi adalah "pendidikan", baik di keluarga, sekolah, masyarakat maupun di tempat kerja. 

Selama ini pola pikir manusia Indonesia masih terlalu "berorientasi daratan" (land-minded), mulai dari kurikulum pendidikan hingga kebijakan-kebijakan yang diambil oleh para penyelenggara negara.

Untuk mengubah "land-mindedness" yang sudah terlalu lama berurat berakar atau karatan, menjadi "sea-mindedness" berarti kurikulum pendidikan dan kebijakan-kebijakan penyelenggaraan negara kita harus diubah secara drastis atau revolusioner.

Seseorang, sekelompok orang, sebuah masyarakat, dan suatu bangsa mau berubah secara cepat umumnya jika eksistensinya terancam


Hari depan, kedaulatan, kehormatan 

Bangsa-bangsa maju sudah lama menyadari bahwa laut adalah "Lebensraum" (ruang kehidupan manusia) masa depan. Alasannya, daratan diperkirakan tidak akan lagi mampu menampung keperluan umat manusia, baik dalam suplai bahan pangan, obat-obatan dan energi, maupun tempat tinggal.

Jadi, hari depan umat manusia, termasuk manusia Indonesia, terletak di laut! Apakah kita mau hidup atau mati secara pelan-pelan dalam kemiskinan dan kehinaan?

Demikian strategisnya laut, karena itu laut adalah wilayah kedaulatan penting yang diincar, diperebutkan dan dipertahankan oleh banyak bangsa dan negara sejak dulu kala sampai saat ini.

Menguasai laut, terutama selat, dari jaman dulu berarti menguasai "jalan air" sebagai jalur perdagangan yang berarti mengendalikan perekonomian dan sekaligus pertahanan dan keamanan suatu bangsa dan negara. Jadi, jangan heran, kalau kini banyak sengketa bilateral dan internasional terkait wilayah laut, seperti klaim atas Ambalat dan Laut Cina Selatan.

Bangsa yang jaya di masa lampau adalah bangsa yang menguasai lautan dengan teknologi pelayaran, astronomi, pembangunan kapal dan armada perangnya. Karena itu, Kerajaan Inggris punya semboyan "Britain rules the waves". (Gara-gara banyak korupsi semboyan itu di Indonesia diplesetkan menjadi "Indonesia waves the rules" atau Indonesia membuang aturan-aturan). 

Sejarah penjajahan bangsa Eropa atas bangsa-bangsa lain di luar benua Eropa juga bermodalkan penguasaan atas ilmu dan teknologi kelautan, karena ekspedisi untuk menjajah bangsa-bangsa lain dilakukan lewat laut.

Kini, berkat kemajuan ilmu dan teknologi, laut menjadi wilayah kedaulatan yang semakin penting karena di dalam laut tidak hanya ditemukan ikan, tetapi juga bahan-bahan tambang, terutama minyak dan gas, sumber energi lain, bahan pangan, dan obat-obatan. 

Laut dengan pantai daratan yang indah, gelombang yang tinggi, angin yang mendesau juga merupakan obyek pariwisata yang mempesona, termasuk wisata olah raga.

Laut juga menginspirasi lahirnya karya sastra, prosa dan puisi yang indah dan film yang indah dan bermutu. Misalnya, novel terkenal "The Old Man and the Sea" karya Ernest Hemingway. 

Laut juga menumbukan perdagangan dan pertukaran budaya antar pulau dan bangsa serta berbagai macam industri berteknologi tinggi untuk pengolahan kekayaan alamnya, perkapalan, konstruksi tahan air, dan pertahanan/keamanan.

Pokoknya, laut menjanjikan hampir segala kebutuhan manusia.


Harapan Besar Dunia

Kerajaan-kerajaan besar Indonesia dulu juga terkenal dengan keunggulan mereka dalam menguasai lautan. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Pulau Sumatera dan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Pulau Jawa adalah dua imperium yang dihormati bangsa-bangsa lain di luar kawasan Nusantara.

Setelah itu, muncul Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Kerajaan Demak di Jawa, dan Kerajaan Goa di Sulawesi serta beberapa kerajaan lain sebagai penerus kedua imperium tersebut. Tetapi, mereka kalah bersaing dengan bangsa-bangsa Eropa yang bergerak ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah.

Kapal bangsa Eropa lebih besar dengan tiang layar yang lebih tinggi dan layar yang lebih lebar, sehingga bisa melaju lebih cepat. Ditemukannya mesiu dan mesin uap, semakin menambah keunggulan armada laut bangsa Eropa atas kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Dulu pelaut-pelaut Nusantara berlayar sampai ke Madagaskar dan wilayah Afrika Selatan dan meninggalkan jejak peradaban di wilayah itu, di antaranya adalah ditemukannya kosa kata yang sama dengan bahasa daerah Indonesia.

Keunggulan nenek moyang kita itulah yang kemudian mengilhami lahirnya lagu "Nenek Moyangku Orang Pelaut". Sayang, lagu itu sekarang sudah jarang diperdengarkan, dibandingkan pada tahun 50-an dan 60-an yang menjadi lagu wajib untuk dihafal anak-anak sekolah. Padahal, katanya kita bangsa bahari. 


Benua Maritim Terbesar 

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri atas 17 ribu pulau lebih dengan lautan yang menyatukannnya, bukan memisahkannya, menurut Badan Kelautan Amerika Serikat (NOA) adalah sebuah benua maritim (maritime continent). 

Menristek Prof Dr. B J Habibie yang kemudian menjadi presiden ke-3 RI sering mengumandangkan Indonesia sebagai Benua Maritim terbesar di dunia.

Secara geografis letak kepulauan Indonesia di antara dua benua Asia dan Australia dan dua lautan besar, Samudera Hindia dan Lautan Pasifik, dan di bawah Garis Khatulistiwa memegang peranan penting dalam penentuan cuaca dan iklim dunia.

Indonesia adalah negara terkaya dalam keanekaragaman hayati laut (marine biodiversity) di dunia. Jika digabung dengam keanekaragaman hayati daratan, Brazil berada di urutan pertama dan Indonesia kedua.

Posisi geografisnya yang strategis dan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah telah menjadikan Indonesia sebagai "Lebensraum" masa depan terbesar umat manusia sedunia.

Itu bukan sesuatu yang mustahil. Apalagi, akhir-akhir ini mulai diungkapkan temuan bahwa Benua Atlantis yang hilang itu sebenarnya adalah wilayah Nusantara atau NKRI sekarang ini.

Menyimak fakta-fakta dan ceritera itu, maka tidak ada pilihan lain bagi bangsa Indonesia kecuali segera melancarkan Revolusi Biru (Blue Revolution). 

Dunia pernah melancarkan Revolusi Hijau (Green Revolution) tahun 1970an dalam upaya mencukupi kebutuhan pangan manusia. Indonesia berkat revolusi itu pernah berhasil mencapai swasembada beras.

Presiden Soeharto atas keberhasilan itu mendapat Penghargaan dari FAO (Food and Agriculture Organization) di markas besarnya di Roma, Italia tahun 1985. (Saya meliput peristiwa itu sebagai wartawan ANTARA yang berkedudukan di Eropa).

Revolusi Hijau telah mendorong pembukaan hutan sebagai lahan pertanian dan penggunaan bahan-bahan kimia untuk pupuk dan pestisida secara berlebihan. Bersamaan itu, eksploitasi energi fosil yang bersumber di daratan telah merusak lingkungan hidup.

Akibatnya, bumi makin panas dan terjadi perubahan iklim dunia (global warming and global climate change). Lalu muncullah gerakan pro penyelamatan lingkungan seperti Green Peace, Green Civilization, Green Culture, dan Green Lifestyle. 

Dampak kerusakan lingkungan itu kini kita rasakan dalam bentuk ketidakteraturan musim, banjir, kekeringan, dan kekurangan pangan. (Bersambung). 


*Penulis, Wartawan sejak 1973, pernah menjadi Pemimpin Umum/Pemred Koran Republika, Pemimpin Umum (sekarang Dirut)/Pemred Lembaga Kantor Berita ANTARA, Sekjen PWI, Sekjen Organisasi Kantor-kantor Berita Asia Pasifik (OANA), Dirut RRI dan Ketua Satgas Pramuka Peduli/Waka Kwarnas Gerakan Pramuka, Ketua KELK (Komisi Evaluasi Lingkungan Kota) Provinsi DKI. Kini: Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) bidang Relawan dan Peduli Bencana, Ketua Umum IRSI (Ikatan Relawan
Sosial Indonesia), pegiat kepramukaan dan aktivis sosbudling (sosial, budaya, dan lingkungan) serta pemain Kethoprak (sandiwara tradisional Jawa). Penulis sejumlah buku, termasuk Jurnalisme Profetik: Mengemban Tugas Kenabian dan kolumnis. 

(A015/A011)

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga