Kamis, 27 April 2017

Sulteng Ekspor Langsung Kelapa Segar, Kalangan Industri Menangis?

id Ekspor
Sulteng Ekspor Langsung Kelapa Segar, Kalangan Industri Menangis?
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sulteng Bunga Elim Somba (tengah) melepas ekspor langsung ke Thailand kelapa segar sebanyak 1.200 ton di Pelabuhan Pantoloan, Minggu (16/4). (Antarasulteng.com/Fiqman Sunandar)
Abubakar Almahdali: kalangan industri pengolahan jangan khawatir kekurangan bahan baku karena produksi kelapa cukup besar.
Palu (antarasulteng.com) - Gubernur Sulawesi Tengah diwakili Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesra,  Bunga Elim Somba, melepas ekspor langsung ke Thailand berupa kelapa segar tanpa sabut sebanyak 1.200 ton, di Pelabuhan Pantoloan Palu, Minggu.

Ekspor yang dilakukan PT Alam Jaya Prima bekerja sama dengan PT Nusantara Terminal Service, anak perusahaan PT Pelindo IV itu merupakan yang kedua kalinya setelah ekspor perdana pada 16 Maret 2017 sebanyak 160 ton.

Kapal yang membawa puluhan unit kontainer berkapasitas 95 theus berisi kelapa berbalut batok/tempurung itu akan berlayar langsung ke pelabuhan di Bangkok, Thailand dengan transit di Pelabuhan Makassar.

Namun di tengah suasana gembira atas terealisasinya ekspor kelapa mentah dalam skala besar itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Abubakar Almahdali mengakui bahwa kalangan pelaku industri pengolahan produk-produk kelapa 'menangis' karena terancam kesulitan bahan baku.

Gubenur Sulteng Longki Djanggola dalam sambutan yang dibacakan Bunga Elim Somba menyambut gembira pelaksanaan ekspor langsung ini, sehingga perolehan devisa ekspor daerah tidak lagi terlalu bergantung pada hasil tambang minyak, gas dan besi.

Ia menyebutkan, pada 2015 perolehan devisa ekspor Sulteng mencapai 503,20 juta dolar Amerika Serikat, naik signifikan menjadi 1.470 dolar AS pada 2016, dan periode Januari-Februari 2017 sudah mencapai 273 juta dolr AS.

Namun, katanya lagi, nilai ekspor itu sebagian besar yakni sekitar 97 persen disumbangkan oleh hasil mineral dan besi baja.

"Hal ini tidak bisa dipertahankan dalam waktu yang lama karena tambang merupakan komoditas yang tidak terbarukan. Karena itu, kami perlu mengembangkan komiditas yang berbasis unggulan daerah dan terbarukan seperti hasil-hasil pertanian dan perkebunan," ujarnya pula.

Menurut Gubernur, kelapa akan menjadi salah satu produk unggulan karena tanaman ini tersebar hampir di seluruh wilayah Sulteng, sehingga sangat besar peluang untuk mengembangkan ekspor dalam bentuk kelapa utuh dan hasil prosesing.

Ke depan, katanya pula, perdagangan kelapa dalam bentuk setengah jadi dan hasil industri prosesing diharapkan menjadi salah satu solusi dalam program pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

Ia menyebutkan bahwa pada 2016 lalu, konferensi negara-negara penghasil kelapa di Asia dan Pasifik (APCC) menegaskan bahwa kelapa dan turunannya merupakan komoridas serba guna yang lagi naik daun di pasar global dewasa ini.

Karena itu, 20 negara anggota APCC telah menyusun strategi agar kelapa memberikan manfat ekonomi yang maksimal bagi rakyat dan negara, termasuk dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Dari sisi budi daya, katanya, Pemprov Sulteng akan mengembangkan bibit kelapa dalam dengan mengawinkan bibit-bibit kelapa dalam unggulan daerah seperti kelapa bangga, kelapa buol, dan kelapa tolitoli untuk menemukan bibit yang paling produktif dan tahan penyakit.

Terkait keluhan pelaku industri pengolahan produk-produk kelapa yang merasa terancam suplai bahan bakunya dengan mulai gencar ekspor kelapa mentah, Kepala Dinas Perindag Sulteng Abubakar Almahdali mengatakan pengusaha industri tidak perlu khawatir karena produksi kelapa Sulteng masih cukup besar.

"Saat ini kami memiliki areal perkebunan kelapa seluas 214.000 ha dengan produksi 189.570 ton per tahun, sedangkan kelapa segar yang diekspor hanya 1.200 ton, atau sekitar 0,6 persen dari total produksi. Jadi kalangan industri tidak akan kekurangan bahan baku," ujarnya lagi.

Direktur Operasi dan Komersial PT Pelindo IV Alif Abadi mengatakan pihaknya akan terus mendorong pelaku usaha di Sulteng untuk menyediakan akses dan sarana melakukan ekspor langsung semua komoditas unggulan.

"Pelabuhan Pantoloan ini akan kami kembangkan. Crane untuk pengangkat kontainer akan kami tambah, dan areal kegiatan kepelabuhanan juga akan kami perluas, sehingga aktivitas ekspor bisa lebih leluasa," ujarnya.

Ekspor langsung ini, kata Alif, akan menimbulkan efisiensi karena ada pengurangan masa berlayar (sailing time) kapal pengangkut yang berdampak positif pada harga yang akan dinikmati petani kelapa.

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga