Selasa, 23 Mei 2017

Industrialisasi Bandeng Berpeluang Besar Jadi Gerakan Nasional

id DKP
Industrialisasi Bandeng Berpeluang Besar Jadi Gerakan Nasional
Wakil Ketua MAI Dr Ir Hasanuddin Atjo, MP (kiri) saat bebricara pada Rakernas MAI di Bogor, Jumat (21/4). (Antarasulteng.com/Istimewa)
Hasanuddin Atjo: ini butuh regulasi yang berlaku nasional seperti Keppres
Palu (Antarasulteng.com) - Wakil Ketua Masyarakat Aquatik Indonesia (MAI) Dr Ir Hasanuddin Atjo, MP mengemukakan untuk mendukung gerakan massal industrialisasi bandeng di perairan laut, diperlukan dukungan regulasi yang berlaku secara nasional. 

"Regulasi ini penting dalam rangka mewujudkan industrialisasi bandeng menjadi sebuah gerakan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan penguatan ketahanan pangan," katanya saat dihubungi dari Palu, Senin, usai memberikan pemaparan pada Rapat Kerja Nasional MAI di Bogor.

Dalam seminar tersebut, kata Atjo yang sukses melakukan inovasi teknologi budidaya bandeng di laut dengan teknologi keramba jaring tancap (KJT) itu memberikan paparan berjudul "Perkembangan Terkini dan Prospek Industri Budidaya Bandeng di Indonesia."

"Prospek industri dan budidaya bandeng masih sangat besar. Pasar ekspor semakin terbuka, terutama ke Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yaman dan Kuwait serta pasar Eropa yakni Inggris, Belanda, Rusia dan Malaysia.

Indonesia, kata Atjo yang juga Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng itu, merupakan salah satu negara penghasil nener terbesar di dunia. Khusus dari hatchery di Bali dan sekitarnya saja, saat ini telah mampu memproduksi 20 juta ekor nener perhari dengan tujuan pasar masih didominasi Filipina.

"Di Filipina bahkan kita sulit menemukan bubur ayam. Yang banyak dijual justru bubur bandeng. Sebagian besar budidaya bandeng di Filipina, benihnya diimpor dari Bali," ujar penemu teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia itu.

Sulawesi Tengah, kata Atjo, saat ini telah melakukan inovasi terkait budidaya bandeng di perairan laut yang dikembangkan dengan teknologi keramba jaring tancap (KJT) dan keramba jaring apung (KJA).

Dari hasil evaluasi, kedua teknologi budidaya ini ternyata mampu 210 ton/ha dengan mutu bandeng yang lebih baik dari bandeng tambak. Sedangkan teknologi KJA yang pernah diuji coba di Sulsel bisa menghasilkan 400 ton/ha.

Jadi, budidaya bandeng di laut dengan teknologi KJT dan KJA memberikan banyak peluang baru sehingga sangat potensial bila dikembangkan sebagai sebuah gerakan nasional.

"Dengan KJT dan KJA, kita bisa melakukan panen hidup dan ikan langsung diberikan perlakuan khusus agar tetap hidup lalu dikirim ke tujuan pasar sehingga terjamin kesegarannya," ujarnya.

Memelihara bandeng di laut juga memberikan banyak keuntungan. Kandungan mineral dan protein ikan jauh lebih bagus ketimbang bandeng yang dipelihara di tambak. Juga ikan tidak akan berbau lumpur," katanya lagi.

Hasnauddin Atjo juga mengemukakan rencana workshop nasional industrialisasi bandeng pada Juli 2017 di Kota Palu atas inisiatif Komenko Maritim dengan Pemprov Sulteng.

"Kami sangat berharap adanya keterlibatan MAI dalam membantu menyusun rekomendasi workshop. Hal yang mendesak untuk dilakukan dalam workshop nanti adalah kajian penerapan konsep the golden age stage pada pentokolan bandeng, kemudian penananganan bandeng di saat panen agar sisik tetap utuh serta teknologi pengolahan," katanya. 

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga