PLN Mulai Pasang 'Tower Emergency' di Poso

id PLN

PLN Mulai Pasang 'Tower Emergency' di Poso

Manager AP2B PLN Suluttenggo Sugeng Hidayat (kanan) dan Manager Area Palu Emir Muhaimin memimpin pemasangan tower emergency di tepi Sungai Puna, Rabu (26/4). (Antarasulteng.com/Feri Timparosa)

Sugeng Hidayat: pemasangan 'tower emergency' ini perlu waktu delapan hari
Poso (antarasulteng.com) -  PT PLN (Persero) mulai membangun tiang darurat (tower emergency) untuk menggantikan tower No.46 di Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, yang roboh pada Senin (24/4) karena dihantam banjir.

Manajer Area Penyalur dan Pengatur Beban (AP2B) PT PLN Sistem Minahasa, Sugeng Hidayat kepada Antara di lokasi tower yang roboh itu, Rabu, mengatakan pihaknya bereaksi cepat dan bekerja sangat keras untuk segera memulihkan suplai listrik akibat robohnya tower itu

Seperti diketahui, robohnya tiang yang menyuplai listrik 60 MW dari PLTA Poso ke Sistim Kelistrikan Palu itu mengakibatkan pelayanan listrik pada ratusan ribu pelangan PLN di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Parigi Moutong dan Sigi terganggu sehingga harus menerapkan pemadaman secara bergilir.

"Kami mulai kerjakan pemasangan tower emergency ini setelah semua bahannya tiba di lokasi hari ini. akan terus bekerja keras agar distribusi listrik ke Kota Palu dan sekitarnya pulih sesegera mungkin," kata Sugeng Hidayat.

Sugeng yang didampingi Manajer PLN Area Palu Emir Muhaimin tampak sibuk mengatur persiapan pelaksanaan pembangunan tower darurat, sementara sejumlah pekerja mulai melepas kabel-kabel saluran udara tegangan tinggi (SUTT) yang menempel pada tower No.46 Poso-Palu yang roboh dihantam banjir Sungai Puna itu.

Menurut Sugeng, pihaknya masih menunggu tibanya empat kontainer berisi material tower emergency masing-masing satu kontainer dari Gorontalo dan tiga kontainer dari Makassar yang semuanya dijadwalkan tiba di lokasi, Rabu siang ini.

Tower darurat ini, kata Sugeng, membutuhkan waktu konstruksi selama delapan hari sehingga aliran listrik tegangan tinggi dari PLTA Poso ke sistem kelistrikan Palu baru akan pulih kira-kira delapan hari ke depan.

"Mudah-mudahan tidak ada hambatan dalam pelaksanaan konstruksi nanti," ujar Sugeng yang didampingi Emir Muhaimin.

Tower darurat ini memiliki ketahanan sampai satu tahun. Karena itu, sementara tower emergency dipasang, pihaknya juga mulai melakukan survei untuk pembangunan tower permanen pengganti tower No.46 yang roboh tersebut. 

"Masa konstruksi tower permanen akan mencapai 6 sampai 8 bulan," katanya.

PT PLN, kata Sugeng, mengerahkan sekitar 50 orang PLN dari Wilayah Suluttenggo dan Sulsel untuk mengerjakan pemasangan `tower emergency` ini tanpa melibatkan pihak ketiga (kontraktor).

Tower transmisi listrik tegangan tinggi (SUTT) No.46 yang terletak di tepi Sungai Puna, Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir, itu roboh pada Senin (24/4), dan mengakibatkan sistem kelistrikan Palapas (Palu, Donggala, Parigi dan Sigi) kehilangan daya 60 MW sehingga harus melakukan pemadaman secara bergilir sejak Senin (24/4).

Durasi pemadaman bisa mencapai enam jam, lalu hidup lagi sekitar tiga jam dan adam lagi, begitu seterusnya.

Akibat pemadaman ini sejumlah SPBU tidak bisa melayani pembelian bahan bakar, air PDAM macet, dan banyak usaha masyarakat terhenti, bahkan ada rumah sakit yang terpaksa menunda melakukan rontgen karena tidak tersedianya listrik. 

Manager PLN Area Palu Emir Muhaimin mengaku tidak ada pengerahan pembangkit baru untuk mengatasi defisit daya pasa Sistem Kelistikan Palapas tersebut, karena proses pengerahan pembangkit akan memakan waktu lebih lama dari penyelesaian pemasangan tiang darurat ini.

"Jadi sekalian kita tunggu saja selesainya pemasangan tiang darurat, dan setelah itu, supli listrik ke sistem Palapas akan kembali normal sehingga pemadaman bergilir bisa diakhiri," ujarnya.