Senin, 26 Juni 2017

Gaun Batik Bomba Pecahkan Rekor Dunia

id Tenun, Bomba, Rekor
Gaun Batik Bomba Pecahkan Rekor Dunia
Direktur Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID), Paulus pangka, memberikan piagam penghargaan pemecahan rekor gaun batik bomba dengan ekor terpanjang dan motif terbanyak kepada model peragawati Gyska Salsabila siswi SMPN 1 Palu di Grand Mall Palu, Sabtu (30/4) malam. (Foto:ANTARAsulteng/Ridwan
Palulus Pangka : “Karena di Indonesia batik bomba hanya berada di satu daerah, maka penghargaan dan pemecahan rekor ini adalah pemecahan rekor dunia,”
Palu (antarasulteng.com) – Tenun dengan motif bomba, salah satu tenun asli Suku Kaili di Sulawesi Tengah berhasil memecahkan rekor baru dunia yakni gaun batik bomba dengan ekor terpanjang sekitar 144 meter dan motif terbanyak sekitar 85 motif.

Gaun yang dipakai salah seorang model peragawati potensil, Gyska Salsabila, siswi SMPN 1 Palu itu mencengangkan ratusan penonton di atrium Grand Mall di Kota Palu, pada Sabtu (30/4) malam.

Malam itu Gyska menjadi pusat perhatian saat tampil memukau di hadapan para tamu undangan dan penonton. 

Kegiatan itu juga dihadiri Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID), sejumlah pejabat di Pemkot Palu, jajaran kepala sekolah dan guru SMPN 1 Palu, sejumlah tamu penting dan kedua orang tua Gyska.

Penampilan Gyska di atas panggung dengan didampingi sejumlah model perawati lokal, membuat penonton tertegun melihat gaun yang dikenakannya. Beberapa kali ia disambut gemuruh tepuk tangan.

Direktur LEPRID, Palulus Pangka, saat memberikan penghargaan kepada Gyska menyatakan, bahwa peragaan busana batik bomba dengan rekor terpanjang dan motif terbanyak bukan hanya memecahkan rekor secara nasional, melainkan dunia.

“Karena di Indonesia batik bomba hanya berada di satu daerah, maka penghargaan dan pemecahan rekor ini adalah pemecahan rekor dunia,” katanya saat membacakan naskah penghargaan di atas panggung.

Kadis Parekraf Palu, Sudaryano Lamangkona mengatakan kegiatan malam pemecahan rekor gaun batik bomba dengan ekor terpanjang dan motif terbanyak itu merupakan tujuannya untuk mempromosikan prodak lokal khususnya bomba agar mampu bersaing di skala nasional.

Dia mengatakan bomba merupakan identitas Sulteng yang patut terus dikembangkan sebagai warisan budaya bangsa. Sehingga, bomba tidak hanya menggaung dan beredar di daerah itu, tetapi harapannya khas budaya Kaili itu juga bisa beredar di daerah lain di tanah air.

“Ini adalah bentuk promosi yang kami lakukan. Sebagai Dinas yang membidangi itu maka ini kewajiban kami memperkenalkan di mata orang banyak sehingga menasional. Jika ini terus berkelanjutan tidak menutup kemungkinan pengrajin bomba bisa memproduksi prodak lebih dari seperti biasanya, artinya secara ekonomi itu bisa memberikan dampak positif,” katanya.*** 

Editor: Adha Nadjemudin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga