Senin, 25 September 2017

Poso Genjot Program 'Sekali Sehari Tanpa Nasi'

id Poso
Poso Genjot Program 'Sekali Sehari Tanpa Nasi'
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Poso, Ambrosius Tokare (Antarasulteng.com/Feri)
Ambrosius Tokare: kami akan membantu masyarakat dengan bibit ubi dan jagung serta alat pengolahan pangan
Poso (Antarasulteng.com) - Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Poso mengenjot sosialisasi dan implementasi program sehari sekali makan tanpa nasi kepada seluruh masyarakat.

Program tersebut untuk mendukung program Bupati Poso Darmin Sigilipu dalam upaya mensejahterakan masyarakat dengan mengkonsumi makanan dimana dalam sehari sekali makan ubi kayu atau jagung.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Poso Ambrosius Tokare yang ditemui di ruanga kerjanya di Poso, Kamis, pihaknya terus mengupayakan agar masyarakat tidak terus bergantung pada nasi, dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ubi dan jagung yang juga sehat untuk tubuh.

Selain mengenyangkan, konsumsi umbi-umbian dan jagung juga banyak manfaatnya bagi tubuh manusia.

"Dalam sehari itu kan 3 kali makan, masyarakat diupayakan satu kali  makan tanpa nasi, namun makan ubi kayu, ubi jalar atau jagung," ujar Ambrosius.

Dia mengatakan, hanya tiga kecamatan yang belum dilakukan sosialisasi ini yakni Kecamatan Poso Kota, Kecamatan Lage dan Poso Pesisir Selatan.  

Sementara untuk mendukung program itu, Dinas Ketahan Pangan akan membantu memberikan bibit jagung manis, jangung pulut, ubi kayu dan ubi jalar, serta mesin pengolahan.

Bantuan itu, akan diberikan kepada masyarakat melalui kelompok wanita tani yang terbentuk di setiap desa, agar masyarakat dapat mengelola makanan Ubi atau Jagung dengan cara yang lain.

"Kami juga akan membantu memberikan bibit-bibit tersebut berikut mesin pengolahan pangan melalui kelompok wanita tani di setiap desa," katanya.

Dia mengakui kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi nasi masih sangat sulit untuk dilepaskan, namun jika dilakukan secara berangsur-angsur, akhirnya akan terbiasa.

Menurut dia, program tersebut dapat membantu ekonomi masyarakat dengan menghemat keuangan karena tidak membeli beras, namun hanya memanfaatkan pekarangan untuk menanam ubi atau jagung. 

Editor: Adha Nadjemudin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga