Rabu, 18 Oktober 2017

Bulog Sulteng Siapkan 23.000 Ton Beras GSP

id bulog
Bulog Sulteng Siapkan 23.000 Ton Beras GSP
Bulog (antaranews)
Palu,  (antarasulteng.com) - Perum Bulog Divre Sulawesi Tengah menyiapkan stok beras sebanyak 23.000 ton dalam rangka mendukung Gerakan Stabilisasi Pangan (GSP) di daerah itu.

"Sementara stok beras nasional yang disediakan Bulog untuk kegiatan stabilisasi pangan, khususnya beras mencapai dua juta ton," kata Kepala Bulog setempat Suprianto di Palu, Kamis.

Ia mengatakan Gerakan Stabilisasi Pangan dicanangkan Bulog secara nasional di semua provinsi di Tanah Air, termasuk di Sulteng pada 17 Mei 2017.

Bulog Sulteng selain ditugaskan pemerintah untuk membeli dan menyalurkan beras rastra (beras untuk keluarga sejahtera), dahulu dikenal dengan nama raskin (beras untuk warga miskin), juga beberapa komoditi pangan lainnya.

Ada 11 komoditi pangan yang ditugasi pemerintah pusat kepada Bulog dan BUMN lainnya.

Akan tetapi baru sebagian dari komoditi pangan yang ditugaskan pemerintah dan kini sudah direalisasi Bulog Sulteng antara lain beras, gula pasir, minyak goreng, telur ayam, cabai, bawang dan terigu.

Khusus daging beku, Bulog Sulteng hingga kini belum mendatangkan karena stok daging segar di pasar-pasar tradisional di Palu cukup memadai dan harga masih stabil dan terkendali.

Harga daging sapi segar di pasaran saat ini berkisar Rp100.000 sampai Rp110.000/kg. Sedangkan daging beku dijual di pasar modern Rp80.000/kg, sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah pusat.

Suprianto menjelaskan gerakan styabilisasi harga pangan merupakan program Bulog dalam rangka menjaga keamanan harga menghadapi bulan puasa dan hari raya.

Pemerintah berharap gerakan tersebut dapat menekan kenaikan harga pangan di daerah-daerah menjelang puasa dan lebaran dan masyarakat bisa mendapatkannya dengan harga yang wajar.

Hingga kini, harga berbagai bahan kebutuhan pokok masyarakat di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Sulteng, kata Suprianto relatif stabil.

Kecuali komoditi bawang putih, harganya mengalami kenaikan tajam. "Tapi sebaliknya bawang merah justru turun drastis," kata dia.(skd)

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga