Selasa, 17 Oktober 2017

Mengawal Rastra Menyusuri Hutan TNLL

id rastra
 Mengawal Rastra Menyusuri Hutan TNLL
Seorang tukang ojek yang membawa 150kg beras subsidi (rastra/beras untuk warga miskin) harus didorong warga saat mendaki di jalan menuju Lindu, salah satu kecamatan di Kabupaten Sigi yang belum memiliki jalan memadai. (Foto.ANTARA/Anas Masa)
Sigi, Sulteng,  (antarasulteng.com) - Pembentukan Badan Urusan Logistik (Bulog) berdasarkan Keputusan Presidium Kabinet No.114/U/Kep/5/1967 tertanggal 10 Mei 1967 dengan tujuan pokok mengamankan penyediaan pangan dalam rangka menegakkan eksistensi pemerintahan.

Pada tahun 1995, keluar Keppres Nomor 50, untuk menyempurnakan struktur organisasi Bulog yang pada dasarnya bertujuan mempertajam tugas pokok, fungsi, dan peran Bulog.

Tanggung jawab Bulog lebih difokuskan pada peningkatan stabilisasi dan pengelolaan persediaan bahan pokok dan pangan.

Tugas pokok Bulog selain membeli dan menyalurkan beras untuk kebutuhan bencana alam, mendukung kegiatan operasi pasar dan mendistribusikan beras untuk masyarakat prasejahtera (rastra) atau dahulu beras untuk masyarakat miskin (raskin) juga mengamankan stok dan menjaga stabilisasi harga pangan.

Sesuai dengan mekanisme distribusi rastra oleg Bulog hanya sampai pada titik distribusi terakhir. Selanjutnya untuk sampai kepada penerima manfaat, yakni rumah tangga sasaran (RTS) atau masyarakat menjadi tanggung jawab dari pihak kecamatan setempat.

Walaupun demikian, tidaklah salah jika penyaluran beras subsidi dimaksud agar tepat sasaran tetap dikawal oleh instansi berwenang yang menyalurkan rastra dalam hal ini adalah Perum Bulog.

Seperti yang dilakukan oleh Perum Bulog Sulawesi Tengah, Senin (7/8), harus mengawal distribusi rastra untuk salah satu wilayah yang terbilang masih terisolasi di Kabupaten Sigi.

Lindu adalah salah satu dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Sigi Provinsi Sulteng yang kini kini masyarakatnya masih terisolasi.

Satu-satunya moda transprtasi masyarakat untuk mengangkut barang berupa sembako, bahan bangunan, komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan danau, termasuk rastra yang disalurkan pemerintah kepada RTS melalui Bulog. Penyalurannya menggunakan jasa ojek yang setiap hari mangkal di pintu masuk kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Dusun Sadaunta, Kecamatan Kulawi.

Pagi itu, cuaca cerah, namun suhu udara cukup dingin. Tidak heran jika masyarakat setempat sekalipun siang hari tetap menggunakan jaket/mantel tebal.

Rombongan dari Kantor Perum Bulog Sulteng yang dipimpin Kabid Pengadaan dan OPP Bahar Haruna bersama tiga anggota stafnya tiba di Dusun Sadaunta, Senin (7/8) sekitar pukul 10.00 WITA.

Setelah beristirahat untuk menggajal perut makan dan minum kopi, menuju Desa Tomado, Ibu Kota Kecamatan Lindu yang terletak di sekitar Danau Lindu.

Dari Dusun Sadaunta menuju Desa Tomado menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dengan naik kendaraan sepeda motor dan melewati medan jalan yang relatif cukup ekstrem, sisi kiri dan kanan jalan adalah tebing dan jurang yang relatif cukup dalam.

Tepat pukul 11.00 WITA, rombongan dari Perum Bulog Sulteng memulai perjalanan yang sangat menegangkan bersama-sama puluhan ojek yang mengangkut rastra menuju Kecamatan Lindu yang terletak di atas ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut (mdpl).

Satu demi satu motor yang membawa mereka dan rastra meninggalkan Dusun Sadaunta menyusuri hutan belukar yang berada dalam kawasan TNLL.

Dorong Ojek


Karena medan jalannya yang relatif cukup parah, lagi pula harus mendaki, salah satu ojek mengangkut sebanyak 150 kg rastra tiba-tiba mogok.

Ojek yang sarat dengan beras itu pun harus didorong sampai akhirnya bisa tiba di puncak gunung.

Setelah beristirahat sekitar 15 menit sekadar untuk menghilangkan rasa capai dan ketegangan karena melewati medan jalan yang ekstrem tersebut, rombongan kendaraan yang membawa rastra meneruskan perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan cukup panjang menyusuri hutan kawasan TNLL, akhirnya tiba di Desa Tomado sekitar pukul 14.00 WITA dan disambut camat, kepala desa, dan para tokoh masyarakat Lindu dengan ramah dan selanjutnya menjamu makan siang.

Ikan mujair Danau Lindu merupakan menu utama makan siang. Ikan dari danau itu cukup terkenal karena relatif sangat gurih.

Selesai makan, Kabid Pengadaan dan OPP Perum Bulog Sulteng Bahar Haruna menyerahkan rastra kepada Camat Lindu Achin Pampouw, kemudian meneruskan kepada warga penerima beras subsidi di wilayah tersebut.

Menurut Bahar Haruna, sebenarnya tugas Bulog hanya menyalurkan rastra sampai di titik distribusi terakhir.

Untuk wilayah Lindu, kata dia, titik distribusi terakhir hanya sampai di Dusun Sadaunta, pintu masuk menuju Kecamatan Lindu melewati kawasan Taman Nasional.

Semua jatah rastra masyarakat Lindu selama ini menggunakan truk sampai di titik distribusi terakhir. Selanjutnya, menjadi tugas dari pihak kecamatan untuk mengangkut lagi sampai ke titik penerima.

Penerima rastra di Kecamatan Lindu sesuai data yang ada sekitar 300 RTS yang tersebar di lima desa di wilayah itu.

Namun, kata dia, Bulog dalam rangka mengawasi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, khususnya yang berada di desa-desa atau kecamatan yang masih belum dijangkau mobil, termasuk di Lindu yang selama ini belum memiliki prasarana jalan memadai, ikut mengawal penyaluran sampai kepada warga penerima beras subsidi.

"Jadi, kami mengawal langsung sampai ke titik penerima rastra," kata Bahar.

Ia menyebutkan ada beberapa wilayah di Sulteng, termasuk di Kabupaten Sigi dan Donggala, yang masih terisolasi sehingga distribusi rastra juga sering terlambat karena memang kondisi alam dan medan jalannya yang sulit.

Kecamatan Lindu, misalnya. Daerah ini bisa dijangkau dengan jalan kaki atau naik ojek. Selain masalah transportasi, juga kondisi cuaca tidak mendukung.

Di wilayah itu, menurut informasi dari masyarakat, hampir saban hari turun hujan.

"Kalau hujan, otomatis rastra tidak bisa diangkut," katanya.

Terpaksa tertunda lagi karena harus menungguh sampai kondisi cuaca membaik baru rastra diangkut ke Lindu.

Menyangkut harga rastra, Bahar mengatakan bahwa pihaknya tetap mengacu pada standar harga pemerintah, yaitu Rp1.600,00 per kilogram.

Namun, untuk wilayah-wilayah tertentu, harga rastra biasanya lebih dari Rp1.600,00/kg karena ditambah dengan ongkos ojek.

"Biasanya selalu ada kesepakatan bersama antara kecamatan, desa, dan masyarakat," katanya.

Sementara itu Camat Lindu Achim Pampouw kepada Antara membenarkan distribusi rastra ke wilayahnya terkadang terlambat.

Keterlambatan dikarenakan beberapa faktor, terutama masalah transportasi dari titik distribusi terakhir menuju titik penerima rastra.

Untuk wilayah Lindu, kata dia, jatah rastra harus diangkut dengan menggunakan ojek dari Dusun Sadaunta menuju Desa Tomado.

Sewa angkut beras dari Dusun Sadaunta menuju Tomado sekali jalan menggunakan ojek biayanya Rp80 ribu. Ojek bisa mengangkut beras sampai 150 kg.

Akan tetapi, kata Camat, pada musim hujan, sewa ojek bisa sampai Rp150 ribu karena kondisi jalan relatif berat dilalui sepeda motor.

Tentu harga rastra yang tadinya hanya Rp1.600,00/kg, bisa naik sampai Rp2.000,00/kg. Kenaikan itu semata-mata karena biaya transportasi dari titik distribusi terakhir sampai ke titik penerima.

Belum lagi, jika beras dibawa di desa seberang danau, tentu akan lebih besar lagi harganya karena harus menggunakan perahu motor.

Di Kecamatan Lindu ada dua dusun, yakni Dusun Kanawu dan Sangali di Desa Olu berada di seberang Danau Lindu. Selama ini transportasi utama adalah perahu motor/kapal penyeberangan.

Camat Achim dan masyarakat Lindu sangat mendambakan segera terbebas dari keterisolasian sehingga kehidupan masyarakat di wilayah itu bisa meningkat seperti halnya desa/kecamatan lain yang telah berkembang karena sudah lebih dahulu terlepas dari ketertinggalan dan keterosilasian.

Masyarakat Lindu selain belum memiliki prasana jalan memadai, juga air bersih dan listrik.

Selama ini sebagian masyarakat mengusir kesunyian dan kegelapan malam dengan menggunakan lampu botol (lentera) dan sebagian lagi menggunakan lsitrik generator.

Padahal, di Kecamatan Lindu ada danau yang indah dan dikelilingi desa dan hutan kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Bahkan, Danau Lindu sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Sulteng dan nasional yang diharapkan mampu menarik banyak wisatawan nuisantara, lokal, maupun mancanegara.

Jika jalannya sudah bagus, ada penerangan listrik PLN dan jaringan komonikasi sudah memadai, niscaya perekonomian masyarakat, teramsuk pendapatan devisa negara dari sektor pariwisata akan makin besar pula.

Impian masyarakat Lindu untuk segera terlepas dari belenggu keterisolasian barulah akan terwujud jika pemerintah pusat dan daerah membangun infranstruktur jalan, listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi yang memadai.

Inilah harapan besar dari pemerintah dan masyarakat Kecamatan Lindu kepada pemerintah pusat dan daerah semoga mendapatkan perhatian serius, kata Camat Achim. (skd) 

Editor: Rolex Malaha

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga