Sistem Palu Alami Surplus Daya 10mw

id listrik

Beberapa petugas melakukan perbaikan jaringan listrik tegangan menengah untuk meningkatkan keandalah pelayanan PLN (ANTARA/Arif Priyono)

Palu,  (antarasulteng.com) - Sistem kelistrikan Palu dalam kondisi normal mengalami surplus daya listrik sebesar 10 megawatt (MW), kata Manajer PLN setempat Emir Muhaimin, Selasa.

Namun demikian, kata dia, jika terjadi gangguan besar pada salah satu pembangkit, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), kemungkinan besar bisa mengalami defisit.

Selama ini, sistem kelistrikan Palu yang juga melayani kebutuhan listrik di Kabupaten Sigi, Donggala dan sebagian Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), mendapat suplai listrik dari PLTD milik PLN, PLTU Mpanau milik PT Pusaka Jaya Palu Power dan PLTA Sulewana Poso.

Menurut dia, selama semua pembangkit listrik tersebut beroperasi normal, Palu dan beberapa daerah di sekitarnya mendapat suplai daya, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga dan industri secara kontinyu.

"Tapi jika ada salah satu unit pembangkit mengalami kerusakan, kemungkinan besar akan ada pemberlakukan program pemadaman bergilir," kata Emir.

Namun hal itu jarang terjadi, kecuali memang ada gangguan besar seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu ketika salah satu menara (tower) dan jaringan listrik PLTA dari arah Poso menuju Gardu Induk PLTA di Desa Sidera, Kabupaten Sigi yang terinterkoneksi dengan sistem kelistrikan Palu, roboh karena diterjang banjir bandang.

Jika hanya gangguan kecil, paling tidak dalam waktu singkat sudah dapat teratasi oleh petugas Dinas Gangguan PLN.

Emir juga mengatakan kebutuhan listrik untuk rumah tangga di Kota Palu cenderung terus meningkat dan PLN berusaha memenuhinya.

"Calon pelanggan listrik yang masih masuk dalam daftar tunggu semakin berkurang," katanya.

PLN dalam melayani penyambungan baru berupaya untuk memenuhi secepatnya. "Kita target tujuh hari listrik sudah nyala. Itu, jika didekat calon pelanggan sudah ada jaringan listrik," katanya. (skd) 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar