Sabtu, 23 September 2017

Ulama : Penganut Agama Jangan Monopoli Kebenaran

id mui palu
Ulama : Penganut Agama Jangan Monopoli Kebenaran
Rektor IAIN Palu Prof Dr H Zainal Abidin MAg berdampingan dengan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin (Amat Radinov/ Antarasulteng.com)
Biarkanlah Allah yang menilai umat manusia yang ada di muka bumi, Allah-lah yang lebih berhak menilai dan menyatakan siapa yang salah dan benar
Palu,  (antarasulteng.com) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof Dr H Zainal Abidin MAg menyatakan penganut agama termasuk umat Islam tidak boleh memonopoli kebenaran, yang berujung pada fanatisme yang berlebihan.

"Jangan ada monopoli kebenaran dalam kehidupan ini. Kebenaran hanyalah milik Allah atau Tuhan semesta alam," ungkap Prof Dr H Zainal Abidin MAg saat menyampaikan ceramah takziah di kediaman Rektor Untad Palu Prof Dr M Basir Cyio, Rabu malam.

Prof Zainal Abidin menyebut kebenaran penganut agama utamanya umat Islam jangan hanya berpegang pada suatu dalil atau pendapat, tetapi perlu mengetahui secara mendalam dalil-dalil lain dan pendapat-pendapat lain terkait dengan anjuran-anjuran serta ajaran agama.

Pakar pemikiran Islam modern ini mengatakan banyak dalil dan pendapat serta pandangan para ulama dan ahli-ahli agama terkait dengan suatu anjuran dan ajaran.

Karena itu, tegas dia, tidak boleh seorang Islam atau seorang pemeluk agama hanya mengandalkan atau berpegang pada satu dalil dan satu pendapat kemudian menyalahkan pendapat yang lain.

"Yang terjadi saat ini adalah orang atau seseorang yang berpegang pada satu pendapat, satu dalil, satu faham tertentu menyalahkan orang lain yang berbeda pendapat," sebutnya.

Rektor IAIN Palu ini merasa aneh dengan sikap sebagian orang yang cenderung menyalahkan pendapat orang lain terkait dengan anjuran-anjuran agama dalam kehidupan.

Bahkan, kata dia, seseorang dan sekelompok orang yang berpegang pada pendapat dan dalil tertentu memaksakan pendapatnya untuk di terima oleh orang dan kelompok lain yang berbeda pendapat.

"Berbeda pendapat, berbeda keyakinan serta berbeda tentang pengalaman suatu ajaran anjuran agama karena faktor budaya lainnya itu hal yang biasa. Yang menjadi problem ada pihak-pihak yang suka memaksakan pendapatnya, fahamnya kepada orang dan kelompok lain," urainya.

Dirinya menyebut setiap individu dan kelompok berhak untuk berpendapat dan menyatakan pendapatnya yang benar. Tetapi jangan memaksakan pendapatnya untuk di terimah oleh orang dan kelompok lain.

"Biarkanlah Allah yang menilai umat manusia yang ada di muka bumi, Allah-lah yang lebih berhak menilai dan menyatakan siapa yang salah dan benar," terangnya. (skd)

Editor: Adha Nadjemudin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga